Terberkatilah mereka manusia-manusia yang
merdeka—siapa saja yang telah berani melangkah dari masa lalu, bahwa
memang tak seharusnya kita terus menangisi apa-apa yang telah terjadi.
Terberkatilah kita yang telah jauh berjalan hingga ke titik ini—titik di
mana kita hanya bicara tentang hari ini dan hari esok, sementara
hari-hari yang lalu hanya sesekali kita tengok untuk kita tertawakan,
untuk kemudian melaju lagi jauh ke depan dengan ritme yang lebih cepat.
Kita pernah terseok, terjatuh, juga
terluka hingga tak henti-hentinya berair mata. Kita pernah ceroboh
melakukan hal yang bodoh, keliru, juga melakukan begitu banyak dosa
sampai-sampai merasa tak layak lagi hidup di dunia. Tapi hidup adalah
perjalanan, bukan? Dan di dalam perjalanan itu memang jalan tak
selamanya mulus: ada jalan menurun dan menanjak di sana, ada
kelokan-kelokan biasa hingga tajam, ada cabang-cabang jalan buntu yang
menipu, ada godaan-godaan untuk melupakan arah tujuan yang membuat kita
hanya menikmati saja semua yang tersedia, ada cacian-cacian yang
memuakkan, ada juga rasa lelah yang dengan terampil kita dramatisasi
untuk kita klaim ‘aku telah berusaha sekuat mungkin’ lantas kita
duduk menyerah—kita pasrah seolah-seolah ketakberdayaan yang kita
rasakan adalah anugerah Tuhan yang tak tertolak. Setiap perjalanan punya
dinamika masing-masing, dan kabar paling baik dari semua kenyataan ini
adalah bahwa kita tidak pernah sendiri.
Meski aku tak selalu di sampingmu, bukankah Tuhan begitu dekat dan selalu ada?
Jadi bertahanlah.
Percayalah bahwa beban yang kini tengah kita tanggung ada dan hanya akan ada atas izin-Nya. Percayalah bahwa bekas-bekas luka yang
pernah tercipta akan membuat kita selalu sadar bahwa kita memang
manusia biasa, sekaligus menjadi pengingat dan pelecut semangat kita
bahwa perjuangan—apapun bentuk dan tujuannya—selalu membutuhkan
pengorbanan. Yakinlah bahwa segala bentuk ketertekanan yang kini tengah
menderamu, adalah cara Tuhan untuk membuatmu lebih kuat—memaksamu
meangoptimalkan semua potensi yang ada karena tiap kita punya benih
untuk menjadi hebat. Tiap kita punya kesempatan untuk menjadi juara.
-- *** --
apa yang tertulis di atas adalah tulisan dari seorang penulis dalam blog pribadinya, saya juga sudah melampirkan link blognya jika teman-teman ingin menyelam dalam dunia mayanya. saya tidak tau untuk siapa si penulis menuliskan itu semua, yang jelas bukan untuk saya :D
tapi biarkanlah saya menganggap tulisan ini adalah balasan dari surat-surat saya yang pernah ditulis untuk seseorang di masa depan saya, dan kata-kata di atas.. anggaplah seseorang dimasa depan saya yang menuliskannya
saya memang seringkali bertanya.. apakah ia juga menulis hal yang sama untuk saya, apakah dia juga memikirkan saya. sudah banyak sekali surat yang saya tulis dan inilah satu balasan surat yang akan menjawab semua surat yang saya tulis sejak dulu padanya
ketika menemukan tulisan dengan judul asli "Bertahan" dari blog seorang penulis, saya benar-benar merasa bahwa seseorang di masa depan saya memang ingin menyampaikan hal itu pada saya. sebuah surat dengan nada kasihan dan khawatir tapi ingin menguatkan saya karena percaya bahwa saya mampu, saya bisa. orang yang selalu berfikir bahwa perempuannya ini tentu akan bersikap dewasa untuk menghadapi apapun
aku yakin, kamu adalah sosok laki-laki yang memang hebat. orang yang mungkin sudah melewati lebih banyak luka daripada aku, orang yang mungkin sudah melewati banyak kekecewaan di banding aku, orang yang mungkin sudah banyak melewati tekanan lebih daripada aku
hal yang lebih itu pula yang membuatmu menjelma menjadi sosok laki-laki yang pasti sangat dicintai Allah, sosok laki-laki yang hebat, dan ketika aku berkata seperti ini kamu akan berkata "kamu berlebihan, aku bahkan terlalu biasa saja" entah dari mana aku bisa berfikir kamu akan seperti itu, mungkin sejenis intuisi atau telapati atas takdir yang memang diciptakan untuk kita
ketahuilah, bahwa aku menyayangimu lebih dari yang kamu tau, aku mencarimu sebelum kamu berfikir untuk mencariku, dan aku mencintaimu sejak aku percaya bahwa ada nama pria baik-baik yang tercantum di sebelah namaku di sebuah buku takdir milik Allah, dan aku yakin apa yang Allah berikan itu yang terbaik, kamu yang terbaik untukku nanti
dan kamu benar. Allah selalu ada bersama kita "itulah kabar paling bahagianya"
aku janji, aku akan lebih tegar dalam belajar tentang kehidupan. terimakasih untuk surat ini, terimakasih untuk pengertianmu dan kesediaan untuk menjadi pembaca terbaik dari surat-suratku. jangan khawatir, aku akan baik-baik saja pria baik :') salam untuk ayah ibu ya. selamat menunaikan ibadah puasa untukmu dan keluarga



0 komentar:
Posting Komentar